PLN Mulai Uji Coba 100 Persen Bonggol Jagung untuk Co Firing PLTU Sumbawa

Sumbawa, NTB/zaman – PLN NTB terus mendukung tercapainya target Net Zero Emission di tahun 2060. Salah satunya melalui pelaksanaan cofiring PLTU dengan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) yaitu menggunakan bonggol jagung di PLTU Sumbawa Barat.

Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Lalu Gita Ariadi mengapresiasi langkah dan kinerja PLN yang dinilai positif. Tak hanya keandalan, namun komitmen PLN untuk pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT). Gita berharap akan banyak investor yang akan akan bekerja sama dgn Pemerintah Provinsi NTB di dalam peningkatan pemanfaatan EBT.

“Terima kasih atas berbagai prestasi yang telah diraih. Semoga ke depan pemanfaatan greeen energy akan menghadirkan kehidupan di NTB yang lebih sehat dan lebih bersih di masa yang akan datang”, tutur Gita.

Sementara itu, Manager PLN UPK Tambora, Wayan Budi Laksana menuturkan PLTU Sumbawa Barat adalah salah satu PLTU dalam sistem kelistrikan di NTB yang menerapkan cofiring. PLTU berkapasitas 2×7 MW ini memanfaatkan limbah domestik yaitu bonggol jagung yang telah diolah sedemikian rupa untuk dijadikan bahan bakar alternatif guna peningkatan kualitas produksi listrik dan rantai pasok energi primer pada PLTU.

“PLN saat ini berfokus dalam transisi energi melalui peningkatan bauran energi baru terbarukan. Dalam tahapannya, PLN juga menerapkan green booster yang di dalamnya meliputi implementasi cofiring pada PLTU. Di sisi lain, Sumbawa dikenal sebagai penghasil jagung yang melimpah untuk komoditas pertaniannya.” ujar Wayan.

Proses cofiring menggunakan biomassa bonggol jagung dilakukan secara continue sejak bulan Mei 2022 sampai dengan saat ini dengan persentase campuran biomassa yang terus meningkat.

Dengan melakukan cofiring menggunakan bonggol jagung, PLTU Sumbawa Barat dapat memproduksi energi listrik sebesar 300 MWh yang disalurkan ke pelanggan di Pulau Sumbawa.

“Proses cofiring adalah merupakan proses penambahan biomassa sebagai substitusi sebagian batubara atau campuran batu bara di PLTU. Presentase penggunaannya dilakukan bertahap sebesar 3% di awal-awal percobaan. Kemudian terus kami tingkatkan sebesar 5 persen, 25 persen, hingga 50 persen dari kebutuhan bahan bakar sudah dilakukan sejak bulan Mei 2022 di PLTU Sumbawa. Hingga di bulan ini, kami melaksanakan Performance Test dengan bahan baku 100 persen bonggol jagung,” tambahnya.

Yang menggembirakan, penggunaan biomassa ini terbukti mampu menghemat biaya dan penyediaan pasokan biomassa untuk cofiring juga didukung penuh oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa, stakeholder dengan memberdayakan supplai biomassa dari para petani di Pulau Sumbawa sehingga kontinuitas cofiring dapat terus berjalan.

Wayan juga menjelaskan selama bulan Mei-Agustus 2022, PLTU Sumbawa telah menggunakan 1.196,85 ton (5 persen) biomassa dan berhasil menekan biaya hingga Rp316 juta.

“Ke depannya, kami akan terus meningkatkan biomassa dalam proses cofiring. Tidak hanya menggunakan bonggol jagung, PLTU Sumbawa juga akan menggunakan potensi biomassa yang lain seperti woodchip pohon kaliandra, pohon gamal, dan pohon lamtoro,” ucap Wayan. (dn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.