Hukrim

Lembaga Pemasyarakatan di Jatim Kelebihan Kapasitas Sudah Mencapai 107 Persen, Banyak Bandar dan Pengguna Narkoba

163
×

Lembaga Pemasyarakatan di Jatim Kelebihan Kapasitas Sudah Mencapai 107 Persen, Banyak Bandar dan Pengguna Narkoba

Sebarkan artikel ini
Lembaga Pemasyarakatan di Jatim.
Lembaga Pemasyarakatan di Jatim.

Jatim/zaman – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Indonesia adalah tempat penjara yang di bawah pengelolaan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Sayangnya, sebagian besar Lapas di Indonesia saat ini mengalami masalah kelebihan kapasitas.

Hal ini karena beberapa faktor seperti peningkatan jumlah tahanan. Selain itu, kurangnya infrastruktur lembaga pemasyarakat yang memadai.

Kondisi lapas yang kelebihan kapasitas dapat memberikan dampak buruk bagi tahanan, petugas, dan masyarakat secara keseluruhan.

Salah satu lapas yang sudah kelebihan kapasitas adalah Lembaga Pemasyarakatan di Jawa Timur (Jatim). Penjara tersebut terus sesak oleh para narapidana narkotika. Situasi over capacity sudah mencapai 107 persen.

Menurut Anggota Komisi III DPR RI Didik Mukrianto, kelebihan kapasitas Lapas di Jatim masih relatif besar. Ternyata, pemakai narkoba di penjara tersebut cukup banyak.

“Lapas selalu jadi perhatian kita. Kelebihan kapasitas di Jatim masih relatif besar, 107 persen. Lapas tersebut banyak para napi kasus narkoba, baik bandar maupun penggunanya,” ujarnya seperti keterangan di laman dpr.go.id, Minggu (14/5/2023).

Politisi dari Fraksi Partai Demokrat itu mengatakan, perlakuan hukum terhadap narapidana pengguna dan bandar narkoba mestinya dibedakan.

Menurutnya, para bandar memang harus mendapat hukum berat. Sementara para pengguna harus mendapat rehabilitasi. Para pengguna sebenarnya adalah korban.

“Penyatuan bandar dan pengguna dalam satu Lapas, merusak mental para narapidana pengguna. Harusnya mereka dijauhkan dari para bandar,” ucap Didik.

Ia juga menyoroti soal peredaran narkoba di lapas. Menurutnya, hal itu sebetulnya bukan barang baru. Hampir di setiap Lapas terjadi penyelundupan narkoba dengan segala cara.

“Tinggal bagaimana mengawasi setiap narapidana dan tamu yang datang. Sistem pengamanan lapas mungkin perlu evaluasi,” kata Didik. (Riadin)