zaman.id (26/8/2025) – Pernahkah kamu mendengar celetukan, “Ah, dia mah bucin (budak cinta) banget. Apa-apa istri dulu.” Atau, “Kenapa sih suami harus mendahulukan istri terus, kayak dimanjain?”. Di era modern ini, gagasan kenapa istri didahulukan sering disalahpahami sebagai kelemahan atau sikap berlebihan.
Padahal, jika kita telaah lebih dalam, konsep ini bukanlah soal memanjakan, melainkan sebuah prioritas syariat yang berakar kuat dalam ajaran Islam. Mendahulukan istri adalah manifestasi dari akhlak mulia dan pondasi untuk membangun keluarga yang tangguh, harmonis, dan penuh berkah.
Ini adalah sebuah prinsip yang jauh dari kesan bucin, tapi justru menunjukkan kedewasaan dan tanggung jawab seorang laki-laki. Artikel ini akan mengajak kamu untuk memahami alasan mendalam di balik ajaran mulia ini, yang justru akan memperkuat ikatan pernikahan.
Istri: Amanah dari Allah yang Wajib Dijaga
Pernikahan dalam Islam bukanlah sekadar ikatan cinta antara dua individu. Ia adalah sebuah akad suci, di mana seorang laki-laki mengambil tanggung jawab besar untuk menjaga dan melindungi seorang wanita. Istri adalah amanah yang dititipkan oleh Allah SWT melalui akad yang kokoh. Rasanya, tidak ada ungkapan yang lebih indah dari hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa istri dinikahi dengan amanah Allah dan kemaluan dihalalkan dengan kalimat Allah.
Amanah adalah sesuatu yang harus dijaga dengan sepenuh hati. Menjaga amanah berarti memberikan yang terbaik, memastikan kebutuhan terpenuhi, dan melindunginya dari segala hal yang buruk. Ini termasuk menjaga perasaan, kehormatan, dan hak-haknya. Dengan menempatkan istri sebagai prioritas, seorang suami sedang menunaikan amanah besar dari Sang Pencipta. Sikap ini adalah wujud nyata dari ketaatan kepada Allah, bukan sekadar mengikuti hawa nafsu atau perasaan.
Seseorang yang memahami konsep amanah ini tidak akan merasa keberatan untuk mendahulukan istrinya. Sebaliknya, ia akan merasa bangga karena sedang menjalankan perintah agama dengan sebaik-baiknya. Ia tahu bahwa setiap kebaikan yang diberikan kepada istrinya akan menjadi ladang pahala yang tak terhingga. Ini adalah investasi jangka panjang, bukan hanya untuk kehidupan di dunia, tetapi juga untuk akhirat kelak. Bukankah kita semua ingin menjadi hamba yang amanah dan bertanggung jawab?
Memuliakan Istri, Akhlak Terbaik Seorang Suami
Jika kita ingin mencari contoh sempurna tentang bagaimana seharusnya memperlakukan istri, cukuplah kita melihat bagaimana Rasulullah SAW memuliakan para istrinya. Beliau tidak pernah kasar, selalu sabar, dan seringkali menunjukkan kasih sayang secara terang-terangan. Beliau adalah contoh nyata bahwa memuliakan istri bukanlah tanda kelemahan, melainkan puncak dari akhlak yang mulia.
Rasulullah SAW bahkan pernah bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” Hadis ini tidak hanya sekadar anjuran, melainkan sebuah standar etika yang harus dipegang teguh oleh setiap suami. Mendahulukan istri dalam segala hal, baik urusan kecil maupun besar—adalah salah satu bentuk implementasi dari hadis ini.
Misalnya, dalam memilih tempat makan, memilih tujuan liburan, atau bahkan dalam urusan rumah tangga, mendengarkan dan mengutamakan pendapat istri adalah bentuk penghormatan. Ini menunjukkan bahwa suaminya menghargai keberadaannya, pikirannya, dan perasaannya. Sikap ini secara tidak langsung membangun rasa aman dan kepercayaan dalam diri istri, yang pada akhirnya akan membuat rumah tangga menjadi lebih harmonis. Jadi, mendahulukan istri bukanlah tanda suami yang manja, melainkan cerminan dari akhlak mulia yang meneladani Nabi.
Nafkah Istri: Prioritas Syariat yang Tak Terbantahkan
Salah satu pilar utama dalam pernikahan adalah nafkah. Dalam Islam, nafkah istri adalah prioritas syariat yang tidak bisa diganggu gugat. Kewajiban memberikan nafkah ini bahkan lebih didahulukan daripada memberikan nafkah kepada orang tua atau kerabat lain, meskipun mereka juga memiliki hak. Ini adalah bukti nyata betapa tingginya kedudukan istri dalam Islam.
Seorang suami yang bijak akan selalu memastikan kebutuhan istri dan anak-anaknya terpenuhi sebelum memenuhi kebutuhan lainnya. Ini bukan berarti ia melupakan orang tua, tetapi ia memahami bahwa tanggung jawab utama yang langsung terkait dengan keberkahan rumah tangganya ada pada nafkah istri. Nafkah bukan hanya soal uang, tetapi juga mencakup sandang, pangan, papan, dan kebutuhan lainnya yang layak.
Ketika seorang suami memprioritaskan nafkah istri, ia sedang membangun fondasi ekonomi keluarga yang kuat. Istri yang merasa aman dan tercukupi kebutuhannya akan lebih fokus dalam mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anak. Sebaliknya, jika nafkah tidak terpenuhi, ia akan merasa khawatir, tertekan, dan ini bisa menjadi pemicu perselisihan dalam rumah tangga. Prioritas ini adalah manifestasi dari janji yang diucapkan saat akad nikah, bahwa ia akan bertanggung jawab penuh atas istri yang dinikahinya.
Mendahulukan Istri Bukan Berarti Lemah atau Kalah
Kadang, ada anggapan bahwa suami yang mendahulukan istri itu lemah atau takut pada istrinya. Pemikiran ini sungguh keliru dan tidak mencerminkan esensi ajaran Islam. Justru sebaliknya, mendahulukan istri bukan berarti lemah, melainkan menunjukkan kekuatan karakter dan kebijaksanaan.
Seorang suami yang kuat bukanlah yang selalu menang dalam setiap perdebatan atau yang memaksakan kehendaknya. Kekuatan sejati seorang laki-laki terletak pada kemampuannya untuk mengalah demi kebaikan bersama, untuk memahami dan menghargai pasangannya. Ini membutuhkan ego yang rendah, hati yang lapang, dan pikiran yang terbuka—sifat-sifat yang tidak dimiliki oleh sembarang orang.
Keputusan untuk mendahulukan istri adalah pilihan sadar yang didasari oleh cinta, penghormatan, dan tanggung jawab. Ini adalah bukti bahwa ia tidak memandang pernikahan sebagai ajang kompetisi, melainkan sebagai sebuah tim. Dalam sebuah tim, setiap anggota harus saling mendukung dan mengutamakan kepentingan bersama. Suami yang mendahulukan istrinya menunjukkan bahwa ia adalah pemimpin yang bijaksana, yang mengerti bahwa kebahagiaan istri adalah kunci kebahagiaan rumah tangga.
Istri yang Didahulukan, Rumah Tangga yang Kuat dan Bahagia
Ada korelasi langsung antara sikap suami yang mendahulukan istri dengan keharmonisan rumah tangga. Istri yang didahulukan, rumah tangga yang kuat. Ketika seorang istri merasa dihargai, dicintai, dan diutamakan, ia akan merasa aman dan bahagia. Perasaan ini akan memotivasi dia untuk memberikan yang terbaik bagi suami dan anak-anaknya.
Sebuah rumah tangga yang dibangun di atas fondasi rasa saling menghormati dan mengutamakan akan jauh lebih tahan banting menghadapi berbagai cobaan. Ketika ada masalah, mereka akan menghadapinya bersama-sama sebagai tim, bukan sebagai lawan. Istri akan menjadi tempat curhat yang paling nyaman bagi suami, dan suami akan menjadi pelindung yang paling kokoh bagi istri.
Konsep ini juga menciptakan lingkungan yang positif bagi anak-anak. Anak-anak yang tumbuh melihat ayah mereka memuliakan ibu mereka akan belajar nilai-nilai penting tentang rasa hormat, kasih sayang, dan tanggung jawab. Mereka akan melihat bahwa cinta sejati bukanlah tentang dominasi, tetapi tentang pengorbanan dan pengutamaan. Dengan demikian, kita sedang mencetak generasi baru yang akan meneruskan tradisi mulia ini.
Mendahulukan Istri Bukan Berarti Suami Kalah
Mari luruskan pemahaman ini: mendahulukan istri bukan berarti suami kalah. Ini adalah kesalahpahaman fatal yang sering terjadi. Dalam pandangan syariat, suami adalah pemimpin rumah tangga. Namun, kepemimpinan dalam Islam bukanlah dominasi, melainkan pelayanan.
Pemimpin yang baik adalah yang melayani dan mengayomi anggotanya. Ia adalah yang paling bertanggung jawab dan yang paling banyak berkorban. Rasulullah SAW adalah pemimpin terbaik umat, dan beliau adalah contoh pemimpin yang paling banyak melayani.
Ketika suami mendahulukan istri, ia sedang menjalankan perannya sebagai pemimpin yang melayani. Ia tahu bahwa dengan menjaga dan memprioritaskan istrinya, ia sedang memastikan keberlangsungan dan kebahagiaan rumah tangganya. Ini adalah strategi yang cerdas, bukan kekalahan. Ini adalah bukti kebijaksanaan, bukan kelemahan.
Pada akhirnya, mendahulukan istri adalah sebuah pilihan yang bijaksana dan penuh keberkahan. Ini adalah cerminan dari iman, akhlak, dan tanggung jawab. Jadi, lain kali jika ada yang menyindirmu karena mendahulukan istrimu, tersenyumlah. Kamu tidak sedang menjadi bucin atau lemah. Kamu sedang menjadi laki-laki sejati, yang menjalankan syariat, meneladani Nabi, dan membangun rumah tangga yang kuat.