zaman.id – Pertamina Patra Niaga melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Bandara Internasional Lombok mendukung Festival Begawe Jelo Nyesek 2026. BUMN ini memberikan dukungan melalui Program CSR Mina Tenun di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Program tersebut memperkuat kapasitas penenun Desa Sukarara sekaligus mendorong tenun khas Sasak semakin dikenal sebagai produk budaya bernilai ekonomi.
Festival budaya tersebut melestarikan tradisi menenun khas Suku Sasak yang telah diwariskan secara turun-temurun. Sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat lokal, khususnya kaum perempuan di Pulau Lombok.
Begawe Jelo Nyesek juga menjadi salah satu daya tarik wisata budaya yang memperkuat posisi NTB sebagai destinasi pariwisata unggulan.
Festival Begawe Jelo Nyesek Perkuat Pelestarian Budaya Sasak
Rangkaian kegiatan diawali dengan pertunjukan gendang belek yang mengiringi para tamu undangan menuju Balai Desa Sukarara. Puluhan perempuan penenun menenun langsung kain khas Sasak di sepanjang jalan. Mereka memadukan alunan musik tradisional dengan suara alat tenun yang menjadi ciri khas Desa Sukarara.
Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Bupati Lombok Tengah, HM Nursiah, perwakilan Pemerintah Provinsi NTB, tokoh adat, serta berbagai pemangku kepentingan.
Kehadiran seluruh pihak mencerminkan kolaborasi dalam menjaga kelestarian budaya sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.
Pemda Apresiasi Dukungan Pertamina untuk Penenun Sukarara
Wakil Bupati Lombok Tengah, M Nursiah, mengapresiasi Pertamina Patra Niaga atas pendampingan yang diberikan kepada kelompok penenun di Desa Sukarara.
“Kami berterima kasih kepada Pertamina Patra Niaga AFT Bandara Internasional Lombok atas pendampingan bagi para penenun perempuan di Desa Sukarara. Program tersebut berhasil mendorong para penenun berkembang dan memperkenalkan tenun Sukarara hingga tingkat internasional. Semoga kolaborasi ini dapat terus berlanjut demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan NTB, Muhammad Ihwan, mengatakan Begawe Jelo Nyesek merupakan lebih dari sekadar festival budaya.
“Begawe Jelo Nyesek bukan sekadar festival menenun. Ini adalah perayaan identitas, penghormatan kepada perempuan Sasak, serta bukti bahwa kebudayaan mampu menjadi kekuatan ekonomi, pendidikan karakter, dan daya tarik pariwisata. Tradisi menenun yang diwariskan turun-temurun telah menjadikan Sukarara dikenal hingga mancanegara sebagai salah satu ikon budaya NTB,” katanya.
Program Mina Tenun Tingkatkan Daya Saing dan Kesejahteraan Penenun
Dukungan Pertamina tidak berhenti pada penyelenggaraan festival. Tetapi diwujudkan melalui pendampingan berkelanjutan kepada kelompok penenun agar mampu meningkatkan kualitas produk, memperluas akses pasar dan menjaga keberlanjutan warisan budaya.
Program ini telah berlangsung sejak 2023 dan melibatkan 48 penenun perempuan yang telah didampingi oleh Pertamina.
Aviation Fuel Terminal Manager Bandara Internasional Lombok, Ilham, mengatakan bahwa dukungan terhadap pelestarian budaya merupakan bagian dari komitmen Pertamina Patra Niaga dalam menghadirkan manfaat bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional.
“Komitmen kami tidak hanya memastikan penyaluran energi berjalan dengan baik, tetapi juga mendukung pelestarian budaya yang menjadi identitas masyarakat. Melalui Program CSR Mina Tenun, kami ingin mendorong agar warisan budaya ini terus lestari sekaligus mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi para penenun dan masyarakat Desa Sukarara,” jelas Ilham.
Pada kesempatan terpisah, Area Manager Communication, Relations & CSR Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menambahkan bahwa pengembangan masyarakat berbasis potensi lokal merupakan salah satu fokus Pertamina Patra Niaga dalam menjalankan program TJSL.
“Pertamina Patra Niaga meyakini bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Melalui Program Mina Tenun, kami berupaya memperkuat kapasitas para penenun agar mampu meningkatkan daya saing produknya tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Kolaborasi bersama pemerintah daerah dan masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan manfaat yang berkelanjutan,” ujarnya.
Melalui Program Mina Tenun, Pertamina Patra Niaga berharap tenun Sukarara tetap lestari sebagai identitas budaya Sasak. Program ini diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomi bagi perempuan penenun dan masyarakat.
Kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat diharapkan menjadi fondasi bagi pelestarian budaya yang berkelanjutan sekaligus memperkuat pariwisata dan perekonomian lokal.









