NTB Kaya Investor Pasar Modal, Miskin Kesempatan Kerja

NTB Kaya Investor Pasar Modal, Miskin Kesempatan Kerja.
NTB Kaya Investor Pasar Modal, Miskin Kesempatan Kerja. (Image By Freepik)

zaman.id – Provinsi Nusa Tenggara Barat sedang mengalami fenomena ekonomi yang menarik sekaligus memunculkan tanda tanya besar. Di satu sisi, minat masyarakat menjadi investor pasar modal terus meningkat. Nilai transaksi investasi mencapai Rp1,33 triliun. Jumlah pemodal menembus 192 ribu lebih. Anak muda NTB bahkan mulai akrab dengan saham, reksa dana, dan obligasi.

Namun di sisi lain, realitas sosial di Nusa Tenggara Barat belum benar-benar berubah drastis. Pengangguran masih puluhan ribu orang. Kemiskinan masih menyentuh lebih dari 637 ribu jiwa. Lapangan kerja formal belum tumbuh secepat pertumbuhan investor pasar modal.

Pertanyaannya sederhana, jika uang masyarakat NTB sudah berputar hingga triliunan di pasar modal, mengapa dampaknya belum terlalu terasa di dapur rakyat kecil?

Inilah ironi ekonomi yang sedang terjadi.

Pasar modal memang menjadi simbol meningkatnya literasi keuangan masyarakat. Anak muda mulai berpikir tentang masa depan. Mereka tidak lagi hanya menabung secara konvensional. Mereka belajar investasi, membaca grafik saham, memahami portofolio, hingga berbicara tentang cuan dan dividen.

Berbeda dengan satu dekade lalu, ketika masih banyak orang menganggap investasi saham sebagai dunia eksklusif milik kalangan tertentu.

Namun persoalannya, pertumbuhan investasi finansial ternyata belum otomatis menciptakan pertumbuhan ekonomi yang merata di daerah.

Uang yang masuk ke pasar modal memang bergerak. Tetapi pergerakannya banyak terjadi di layar digital, bukan di sektor produksi lokal yang menyerap tenaga kerja besar.

Baca Juga :  Cara Elegan Move On Setelah Cinta Ditolak

Sementara NTB masih menghadapi problem klasik: minim industri pengolahan, rendahnya nilai tambah hasil pertanian, dan terbatasnya sektor usaha padat karya.

Akibatnya, ekonomi tumbuh tetapi tidak cukup dalam menciptakan pekerjaan.

Di desa-desa, banyak anak muda masih kesulitan mencari pekerjaan tetap. Sebagian memilih merantau keluar daerah hingga luar negeri. Sebagian lagi masuk sektor informal dengan pendapatan tidak pasti.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan investasi finansial belum sepenuhnya terkoneksi dengan kebutuhan ekonomi riil masyarakat NTB.

Padahal, jika sebagian dana triliunan itu mengalir ke sektor produktif lokal, dampaknya bisa jauh lebih terasa.

Bayangkan jika dana investasi masyarakat diarahkan ke industri pengolahan hasil pertanian, peternakan, perikanan, pariwisata lokal, energi terbarukan, atau UMKM berbasis desa. Efek ekonominya akan berbeda. Akan ada pabrik kecil tumbuh, tenaga kerja direkrut dan rantai ekonomi lokal bergerak.

Uang triliunan rupiah tidak hanya berputar di aplikasi investasi, tetapi hidup di pasar, kebun, pelabuhan, hingga warung masyarakat.

Pandangan ini juga mulai disuarakan sejumlah pelaku usaha di NTB. Pengusaha muda Lalu Fatahillah misalnya, menilai sektor riil lebih memberi dampak langsung bagi masyarakat karena mampu membuka pekerjaan baru secara nyata.

Pernyataan itu bukan berarti pasar modal buruk. Sama sekali tidak.

Pasar modal tetap penting sebagai instrumen investasi modern. Bahkan keberadaan investor lokal bisa memperkuat ekonomi nasional. Tetapi daerah seperti NTB membutuhkan keseimbangan. Investasi finansial perlu berjalan beriringan dengan investasi produktif di lapangan.

Baca Juga :  Strategi Efektif Pasif Income, dari Investasi hingga Teknologi

Sebab ukuran kesejahteraan daerah bukan hanya banyaknya investor, melainkan seberapa besar masyarakat bisa bekerja dan hidup layak.

Masalahnya, sektor riil di NTB memang belum cukup menarik bagi sebagian investor. Banyak faktor menjadi penghambat. Mulai dari kepastian regulasi, birokrasi, biaya logistik, infrastruktur, hingga akses pembiayaan usaha yang masih terbatas.

Ketua Perempuan Indonesia Maju (PIM) NTB, Baiq Diyah Ratu Ganefi, menilai ketidakpastian ekonomi global membuat investor semakin berhitung. Banyak pelaku usaha kini lebih memilih instrumen yang dianggap aman dibanding membangun usaha baru yang penuh risiko.

Di titik ini, pemerintah daerah sebenarnya memegang peran penting.

NTB tidak cukup hanya bangga dengan meningkatnya jumlah investor pasar modal. Pemerintah harus mampu menjadikan pertumbuhan dana masyarakat itu sebagai energi pembangunan ekonomi daerah.

Salah satu caranya adalah menciptakan ekosistem usaha yang sehat dan menarik bagi investor lokal.

Investor pasar modal NTB perlu diyakinkan bahwa membangun usaha di daerah sendiri juga menjanjikan. Bahwa membuka industri pengolahan jagung, peternakan modern, cold storage perikanan, atau hilirisasi hasil tambang bisa sama menariknya dengan membeli saham.

Jika itu terjadi, maka uang masyarakat NTB tidak hanya tumbuh di angka portofolio, tetapi juga menciptakan pekerjaan nyata.

Baca Juga :  BBPOM Mataram Perketat Pengawasan Pangan Jelang Nataru 2025

Upaya menyelesaikan masalah pengangguran dan kemiskinan tidak bisa hanya dengan satu kebijakan. Faktor pendidikan, kualitas SDM, akses infrastruktur, hingga produktivitas sektor pertanian juga sangat menentukan.

NTB membutuhkan lebih banyak pelaku usaha produktif. Lebih banyak industri lokal. Lebih banyak investasi yang menyentuh rantai produksi masyarakat.

Karena itu, fenomena meningkatnya investor pasar modal seharusnya menjadi momentum refleksi bersama. Dana triliunan milik masyarakat NTB jangan hanya menjadi angka transaksi dunia maya.

Hal itu tentu bergantung pada keberanian semua pihak menghubungkan dunia investasi dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Sebab pada akhirnya, keberhasilan ekonomi daerah bukan diukur dari seberapa ramai orang membeli saham. Melainkan seberapa sedikit warga yang kesulitan mencari pekerjaan dan seberapa banyak keluarga yang berhasil keluar dari kemiskinan.

Dan sampai hari ini, pekerjaan rumah itu masih belum selesai di NTB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *