zaman.id – Di tengah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor susu, sebuah model pengembangan ekonomi daerah mulai dibangun di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggandeng Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung Syariah untuk memperkuat ekosistem peternakan sapi perah melalui digitalisasi, akses pembiayaan dan penguatan kelembagaan koperasi.
Program tersebut menjadi bagian dari Pengembangan Ekonomi Daerah (PED) yang dijalankan OJK untuk mendorong sektor unggulan di berbagai wilayah Indonesia. Untuk Jawa Timur, OJK memilih komoditas sapi perah karena memiliki peran strategis dalam memenuhi kebutuhan susu nasional.
Kepala OJK Malang Farid Faletehan mengatakan produksi susu dalam negeri masih jauh dari kebutuhan nasional. Menurutnya, seluruh peternak sapi perah di Indonesia saat ini hanya mampu memenuhi sekitar 20 hingga 30 persen kebutuhan susu nasional.
“Produksi susu yang bisa dipenuhi peternak dalam negeri hanya sekitar 20 sampai 25 persen. Sisanya masih berasal dari impor. Sementara Jawa Timur menyumbang sekitar 57 persen produksi susu nasional dan wilayah terbesar ada di Pasuruan serta Malang,” katanya.
Digitalisasi Peternakan Jadi Kunci
Farid menjelaskan bahwa International Labour Organization (ILO) mendukung pengembangan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) sebagai salah satu inovasi utama dalam program tersebut.
Sistem itu memungkinkan seluruh aktivitas peternakan tercatat secara digital. Mulai dari data kesehatan sapi, usia ternak, riwayat pengobatan, produksi susu harian hingga kualitas susu yang disetor peternak.
Melalui ERP, setiap peternak memiliki rekam jejak usaha yang dapat dipantau secara real time. Data tersebut kemudian terhubung dengan berbagai unit usaha milik KAN Jabung.
“Kalau sebelumnya pencatatan dilakukan secara manual, sekarang seluruh data masuk ke sistem. Produksi susu, kesehatan sapi, hingga transaksi anggota bisa dipantau secara digital,” ujar Farid.
Keunggulan sistem ERP di KAN Jabung tidak hanya mencatat aktivitas peternakan. Sistem tersebut juga terintegrasi dengan jaringan ritel JABmart, pabrik pakan ternak, hingga BPRS Al Hijrah yang merupakan bagian dari ekosistem usaha koperasi.
Peternak yang menyetor susu tidak lagi menerima pembayaran tunai setiap hari. Nilai hasil setoran langsung tercatat dalam akun digital anggota. Anggota memanfaatkan saldo tersebut untuk membeli kebutuhan pokok di JABmart serta pakan ternak dari koperasi.
Akses Kredit Berdasarkan Data Produksi
Farid menambahkan integrasi ERP juga membuka akses pembiayaan yang lebih aman dan terukur bagi peternak.
Melalui sistem tersebut, lembaga keuangan dapat melihat kapasitas usaha setiap peternak berdasarkan data produksi aktual. Penilaian kredit tidak lagi hanya mengandalkan agunan, tetapi juga mempertimbangkan performa usaha peternakan yang terekam dalam sistem.
“Kalau peternak memiliki produksi yang baik dan data usahanya sehat, sistem bisa menunjukkan kapasitas pinjaman yang layak. Jadi lembaga keuangan memiliki dasar yang lebih kuat dalam memberikan pembiayaan,” katanya.
Untuk mendukung program itu, sejumlah lembaga keuangan telah menyatakan komitmen pembiayaan. BRI menyiapkan pembiayaan awal sekitar Rp1 miliar. Bank Jatim mengalokasikan Rp450 juta. BPR Jatim menyediakan Rp350 juta. Sementara BPRS Al Hijrah telah merealisasikan pembiayaan sebesar Rp1,1 miliar.
Pemerintah Swiss melalui ILO memberikan hibah untuk mendukung program yang diluncurkan beberapa waktu lalu. Duta Besar Swiss dan perwakilan ILO juga menghadiri langsung peluncuran program tersebut.
Jadi Inspirasi bagi NTB
Keberhasilan model bisnis KAN Jabung menarik perhatian berbagai daerah. Salah satunya OJK Nusa Tenggara Barat (NTB) yang datang langsung untuk mempelajari pola pemberdayaan ekonomi koperasi tersebut.
Kepala OJK NTB Rudi Sulistyo mengatakan model KAN Jabung dapat menjadi referensi bagi pengembangan koperasi produsen di daerahnya.
“Kami ingin mengambil praktik baik dari KAN Jabung. Kenapa mereka bisa bertahan dan pemberdayaan ekonominya berjalan. Ini yang ingin kami pelajari dan terapkan di NTB,” katanya.
Menurut Rudi, salah satu pelajaran penting dari KAN Jabung adalah kepastian pasar dan akses pembiayaan bagi anggota koperasi. Dua faktor tersebut menjadi fondasi utama keberhasilan koperasi dalam meningkatkan kesejahteraan anggotanya.
Ia melihat NTB memiliki potensi besar pada sektor agribisnis seperti sapi Bali dan jagung. Karena itu, OJK NTB akan mendorong terbentuknya koperasi produsen yang mampu menghubungkan petani dan peternak dengan pasar serta lembaga keuangan.
Berawal dari KUD hingga Menjadi Koperasi Modern
Presiden Direktur KAN Jabung Eva Marliyanti menjelaskan koperasi tersebut berdiri pada 27 Mei 1979 dengan nama KUD Jabung. Awalnya koperasi hanya melayani kebutuhan petani tebu rakyat dalam mendukung program swasembada pangan.
Melihat potensi wilayah Jabung yang cocok untuk peternakan, koperasi mulai merintis usaha sapi perah pada akhir 1980-an. Anggota mulai mengumpulkan susu dari para anggota pada 1989, lalu menjalin kerja sama dengan PT Nestlé Indonesia pada 1990.
Kerja sama tersebut mendorong peningkatan kualitas susu anggota agar memenuhi standar industri internasional.
KAN Jabung mendiversifikasi usahanya seiring waktu untuk mengurangi ketergantungan pada satu komoditas. Koperasi mengembangkan unit pakan ternak, jaringan ritel JABmart, layanan sarana produksi peternakan, hingga jasa konstruksi kandang dan infrastruktur.
Saat ini, KAN Jabung memiliki sekitar 2.300 peternak anggota dan menjadi salah satu contoh koperasi modern yang mampu mengintegrasikan sektor produksi, pemasaran, dan pembiayaan dalam satu ekosistem bisnis yang saling terhubung.
OJK memproyeksikan model tersebut sebagai percontohan nasional dalam Program Pengembangan Ekonomi Daerah untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak melalui pemanfaatan teknologi dan perluasan akses keuangan.











