zaman.id – Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Kawasan Timur Indonesia (KTI) 2026 tidak hanya menjadi ajang promosi produk halal. Penyelenggaraan yang berlangsung di Lombok Epicentrum Mall, Kota Mataram, juga menghasilkan capaian bisnis yang melampaui target. Business matching pembiayaan syariah menembus Rp13,5 miliar hingga penutupan kegiatan pada Minggu (12/7).
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat bersama Bank Indonesia resmi menutup rangkaian FESyar KTI 2026. Sekretaris Daerah Provinsi NTB Abul Chair mewakili Gubernur NTB menutup kegiatan tersebut bersama Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB Hario K. Pamungkas. Penutupan turut dihadiri jajaran Bank Indonesia, pemerintah daerah, pelaku usaha syariah, akademisi, pondok pesantren, lembaga ZISWAF, serta para pemangku kepentingan dari 22 provinsi di Kawasan Timur Indonesia.
Abul Chair menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia atas suksesnya penyelenggaraan FESyar KTI 2026 di NTB. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi dalam pengembangan ekonomi syariah di kawasan timur Indonesia.
“FESyar KTI menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi dalam mengembangkan ekonomi syariah serta mendorong UMKM agar semakin berdaya saing melalui peningkatan kualitas produk, sertifikasi halal, pemanfaatan teknologi digital, dan perluasan akses pasar menuju Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta,” kata Abul Chair.
Sinergi 19 Kantor BI Hadirkan 189 Pelaku Usaha Syariah
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB Hario K. Pamungkas mengatakan FESyar KTI 2026 merupakan hasil sinergi 19 Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Kawasan Timur Indonesia. Kegiatan tersebut menghadirkan sebanyak 189 pelaku UMKM dan pelaku usaha syariah.
Penyelenggara menghadirkan empat pilar utama kegiatan, yakni sharia fair, sharia education, sharia forum, dan sharia competition. Melalui sharia fair, masyarakat dapat mengunjungi pameran produk halal, halal mart, bazar kuliner, booth dari 19 wilayah KTI, lembaga jasa keuangan syariah, halal corner, hingga wakaf corner.
Sementara itu, sharia education menghadirkan pelatihan bagi dai dan daiyah, pelatihan content creator, sertifikasi nazhir, serta tabligh akbar sebagai bagian dari kampanye gaya hidup halal.
Pada sharia forum, peserta mengikuti seminar dan diskusi mengenai pembiayaan syariah, modest fashion, ZISWAF, strategi ekonomi syariah, hingga pengembangan halal value chain untuk ekspor.
FESyar juga menggelar berbagai kompetisi, mulai dari modest fashion, halal chef, Olimpiade Ekonomi Syariah Nasional (OESN), kompetisi ZISWAF, konten dakwah, hingga konten ekonomi syariah.
NTB turut mencatatkan prestasi dalam ajang tersebut. BMT Insan Sawama dari Kabupaten Sumbawa berhasil meraih Juara I Kompetisi Lembaga ZISWAF Unggulan Kategori Wakaf.
Omzet UMKM Halal Tembus Rp1,2 Miliar
Selain mencatat keberhasilan penyelenggaraan, FESyar KTI 2026 juga menghasilkan transaksi ekonomi yang signifikan.
Business matching pembiayaan syariah mencapai Rp13,5 miliar atau melampaui target awal sebesar Rp11 miliar. Pada capaian tersebut, BPRS PNM Patuh Beramal Amali Mataram menjadi lembaga dengan realisasi pembiayaan UMKM terbanyak. Sementara itu, Bank Panin Dubai Syariah Mataram mencatat nilai pembiayaan terbesar.
Pelaku usaha syariah dan industri halal juga membukukan omzet penjualan sebesar Rp1,2 miliar selama penyelenggaraan kegiatan.
Di sektor filantropi Islam, penghimpunan dana wakaf melalui Zawa Walk dan Wakafein mencapai Rp61,2 juta. Angka tersebut jauh melampaui target sebesar Rp35 juta. Panitia menyatakan nilai tersebut masih akan terus diakumulasi hingga seluruh rangkaian kegiatan benar-benar berakhir pada malam penutupan.
Antusiasme masyarakat juga terlihat melalui pelaksanaan tabligh akbar yang dihadiri lebih dari 4.000 jamaah. Kehadiran ribuan peserta menunjukkan semakin besarnya perhatian masyarakat terhadap penerapan gaya hidup halal dalam kehidupan sehari-hari.
Bank Indonesia Dorong KTI Jadi Motor Ekonomi Syariah Nasional
Hario menegaskan penguatan ekonomi dan keuangan syariah tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci agar ekosistem ekonomi syariah terus berkembang secara inklusif dan berkelanjutan.
“Penguatan ekonomi dan keuangan syariah membutuhkan sinergi yang kuat antara regulator, akademisi, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan. Dukungan kepada UMKM dan pelaku usaha syariah harus terus diperkuat agar mampu menjadi penggerak utama ekonomi syariah yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Hario.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemerintah daerah, 18 Kantor Perwakilan Bank Indonesia di kawasan Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua, serta seluruh mitra strategis yang telah mendukung suksesnya FESyar KTI 2026.
Hario berharap penyelenggaraan FESyar tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Ia menilai kolaborasi yang telah terbangun dapat menjadi fondasi untuk menjadikan Kawasan Timur Indonesia sebagai salah satu motor penggerak ekonomi dan keuangan syariah nasional menjelang penyelenggaraan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakart











